• <div style='background-color: #000000;'><a href='http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget' title='News Widget'>News Widget</a></div>

Jam Sekolah Diusulkan Mulai Lebih Siang

ADELAIDE, KOMPAS.com -- Beberapa ahli kesehatan dan pendidikan di Australia mengusulkan agar jam masuk sekolah dimulai lebih siang sehingga anak-anak bisa tidur lebih panjang di pagi hari. Ini menurut mereka akan meningkatkan performa pendidikan dan juga kesehatan mereka.

Pendapat tersebut muncul setelah mereka melakukan penelitian mengenai dampak tidur terhadap anak-anak sekolah. Ini dikarenakan pada zaman kemajuan teknologi sekarang, anak-anak semakin banyak menggunakan peralatan berteknologi, seperti komputer, laptop, smart phones, dan permainan video, sehingga mereka kurang tidur, dan itu bisa mempengaruhi perilaku dan meningkatkan potensi obesitas.

Kepala Asosiasi Guru Sekolah Menengah Negara Bagian South Australia, Jan Peterson, seperti dikutip mingguan The Sunday Mail edisi Minggu (25/3/2012), mengatakan bahwa sekolah wajib mempertimbangkan jam sekolah lebih siang guna meningkatkan kinerja anak-anak di sekolah.

Menurut laporan koresponden Kompas di Australia, L Sastra Wijaya, rata-rata sekolah menengah di Australia dimulai pukul 08.30 dan berakhir pukul 15.30. "Anak-anak remaja perlu tidur lebih lama, dan mereka cenderung tidur lebih lama di pagi hari. Jadi kita memerlukan keluwesan untuk mempertimbangkan jam masuk sekolah." kata Peterson.

Pendapat Peterson ini didukung oleh guru besar ilmu sosial Universitas South Australia, Prof Timothy Olds. "Sekarang ini sudah hampir tidak mungkin meminta anak-anak untuk tidur lebih cepat. Jadi memberi kesempatan mereka tidur lebih panjang di pagi ini mungkin bisa menjadi solusi."

Dia mengatakan, anak-anak sekolah memerlukan waktu tidur sekitar sembilan dan seperempat jam setiap malam. Prof Olds mengatakan hal tersebut menyusul penelitian yang sedang dilakukan oleh Universitas South Australia dan Universitas Central Queensland yang mempelajari pola tidur 360 anak-anak kelas 6 dan 7 di 12 sekolah dasar di South Australia.

Dalam penelitian yang baru pertama kali diadakan di Australia tersebut, para pelajar akan mencatat pola tidur, termasuk di mana dan kapan mereka tidur, berapa lama, dan bagaimana perasaan mereka ketika bangun. Tujuan dari penelitian tersebut adalah mendidik anak-anak mengenai pentingnya untuk cukup tidur dan membuat kurikulum mengenai pentingnya tidur.

Ilmuwan utama penelitian ini, Dr Sarah Blunden mengatakan, penelitian sebelumnya di tempat lain menunjukkan para remaja yang kurang tidur akan berprestasi kurang bagus di sekolah. "Secara fisik, para remaja ini mengalami perubahan, sehingga mereka mengantuk lebih malam. Ini juga disebabkan karena mereka menggunakan berbagai perangkat teknologi, dan ini semua membuat waktu tidur mereka berkurang," kata Blunden, dari Universitas Central Queensland.

Dalam komentarnya mengenai artikel ini, sebagian besar pembaca tampaknya tidak setuju bagi perlunya sekolah masuk siang. Alasan bahwa ini akan mengganggu pengaturan jam kerja bagi orangtua, sampai bahwa yang perlu dilakukan adalah memberi disiplin kepada anak-anak sehingga mereka tidak bermain-main dengan berbagai peralatan teknologi, lebih banyak muncul.

"Apakah nanti kalau mereka sudah bekerja, kita bisa mengatakan kepada bos di kantor, saya minta masuk lebih siang karena semalaman saya main games? Apakah ini akan diterima?" demikian tulis seorang pembaca.

Sumber: http://edukasi.kompas.com/read/2012/03/25/19555469/Jam.Sekolah.Diusulkan.Mulai.Lebih.Siang

Pendidikan dan Peradaban Indonesia

Jika Anda mahir menyetir, pasti mudah bagi Anda untuk mendapatkan Surat Ijin Mengemudi (SIM). Kemahiran menyetir modal Anda lulus ujian mendapatkan SIM. Namun, jika perilaku berlalu lintas Anda tak disiplin, dipastikan Anda takkan pernah mendapatkan SIM. Kanada, punya cerita menarik tentang hal ini.

Di Kanada, seseorang yang sudah pandai menyetir belum tentu akan memperoleh SIM jika pada saat tes mengemudi orang tersebut hanya mendemonstrasikan keterampilan menyetir tanpa mengindahkan kedisiplinan berlalu lintas. Sebaliknya, seseorang yang belum begitu mahir menyetir bisa mendapatkan SIM bila pada saat dites memperlihatkan perilaku menyetir yang baik dengan mengedepankan sikap disiplin berlalu lintas. Menarik bukan?

Membangun budaya disiplin lebih diutamakan daripada sekadar pandai menyetir, sebuah ilustrasi tentang bagaimana pemerintah suatu negara melakukan proses pendidikan bagi warga negaranya.

Pendidikan itu berbeda dengan pelatihan & pengajaran. Setiap orang bisa mengikuti kursus menyetir. Di sana ada proses transfer pengetahuan bagaimana cara menyetir yang baik. Artinya, proses pengajaran telah dilakukan oleh instruktur kepada peserta kursus.

Mengajar, artinya ada proses transfer ilmu pengetahuan. Dari tak tahu menjadi tahu cara menyetir, dan menambah ilmu tentang teknik menyetir. Ilmu yang diperoleh peserta kursus kemudian dipraktikkan secara berulang-ulang, itulah pelatihan. Pendidikan lebih berfokus pada proses menyadarkan peserta kursus untuk bersikap disiplin dalam mematuhi aturan lalu lintas yang berlaku.

Pendidikan hanya akan berhasil dilakukan jika ada pembiasaan dan peneladanan. Tahu teori tentang kedisiplinan belum tentu membuat seseorang akan berperilaku disiplin jika dia tidak paham mengapa harus berlaku disiplin.

Memberhentikan kendaraan ketika melihat lampu merah, itu tindakan disiplin. Namun, jika berhenti kalau ada polisi yang sedang berjaga saja, kita layak pertanyakan sikap kedisiplinannya. Apa pula jadinya jika polisi memberi contoh tak terpuji dengan melabrak lampu merah atau menyalip kendaraan dari bahu jalan. Jika tak ada proses pembiasaan dan peneladanan, maka sejatinya proses pendidikan akan gagal total.

Prof. Fuad Hasan (mantan Mendiknas RI) pernah menyatakan bahwa pendidikan merupakan ikhtiar pembudayaan. Pendidikan tidak hanya merupakan prakarsa bagi terjadinya pengalihan pengetahuan dan keterampilan (transfer of knowledge and skills), tetapi juga meliputi pengalihan nilai-nilai budaya dan norma-norma sosial (transmission of cultural values and social norms). Andai ketika kursus menyetir selesai, peserta mampu memiliki kemahiran menyetir dan perilaku disiplin yang sama baiknya. Itulah hakikat proses pendidikan yang sesungguhnya.

Ingat, amal tanpa ilmu bisa jadi amalnya tertolak karena segala sesuatu ada ilmunya. Orang-orang terdidik paham tak semua ilmu membawa kebaikan bagi dirinya. Dia hanya pilih dan pelajari ilmu yang bermanfaat saja. Praktik dan latihan dalam kehidupan nyata akan membuat orang-orang terdidik semakin menghayati ilmu yang dimilikinya lewat proses belajar. Mereka adalah orang-orang yang pintar memaknai sesuatu dalam hidupnya, bukan orang yang ‘merasa pintar’.

Pendidikan mestinya bisa menghasilkan orang-orang yang bertumbuh menjadi dewasa dan mandiri. Semakin mengenal ‘diri’, semakin jujur dengan diri sendiri, semakin otentik, dan menjadi semakin unik tak terbandingkan (Andrias Harefa, Buku Menjadi Manusia Pembelajar, 2008).

Proses Dehumanisasi dalam Pendidikan

Kegagalan terbesar dari sistem pendidikan kita bukan terletak pada masalah lemahnya pendidikan mencerdaskan rakyat, tetapi terletak pada masalah ketidakmampuan pendidikan menyadarkan rakyat terhadap permasalahan hidup yang nyata.

Siapa yang tak miris melihat situasi bangsa terkini. Tawuran masal mudah sekali terjadi. Dari mulai gesekan antar pelajar, hingga tawuran antar kampung. Tak ada lagi logika. Semua masalah tampaknya hanya bisa diselesaikan dengan otot saja. Hampir tak ada bedanya perilaku orang yang berpendidikan maupun yang tak sempat terdidik karena tak punya akses mendapatkan pendidikan berkualitas. Ini jelas menjadi sebuah ironi.

Pendidikan sudah dianggap berhasil jika sudah ada gedung sekolah, kurikulum, guru, siswa, kegiatan pembelajaran, dan fasilitas pendukung lainnya. Kita lupa tidak pernah mencermati secara serius perubahan apa yang sudah terjadi pada anak-anak kita melalui kegiatan pendidikan? Jangan-jangan, pendidikan malah membuat anak-anak kita jadi tak punya jati diri, kehilangan arah, cerdas namun tak berakhlak, dan tak paham untuk apa mereka menuntut ilmu.

Koruptor terdidik semakin banyak, orang cerdas Indonesia berani jual aset negara, budaya mencontek di sekolah dibiarkan, harga diri & kehormatan guru masih dilecehkan, mahasiswa makin doyan tawuran daripada lakukan debat ilmiah di kampus mereka, dan korupsi dana bantuan operasional sekolah masih meramaikan berita-berita di media massa. Ini menyertai hadirnya pendidikan karakter di bumi pertiwi.

Jika ujung-ujungnya hanya sekadar tahu teori tentang karakter, situasi carut marut masih tetap akan berlangsung. Sekali lagi, dunia pendidikan takkan mampu beri kontribusi pada bangsa ini untuk keluar dari keterpurukan.

Fenomena ini yang diistilahkan oleh Paulo Freire, Banking Concept of Education. Ciri utamanya adalah komunikasi bersifat antidialogis, guru mengajar-murid belajar, guru tahu segalanya-murid tidak tahu apa-apa, guru bicara-murid mendengarkan, guru adalah subjek proses belajar-murid objek belajar. Pendidikan kehilangan nilai-nilai humanisme. Semua orang hanya menjejali isi kepalanya dengan pengetahuan-pengetahuan baru. Tak peduli pengetahuan itu berguna atau tidak bagi dirinya. Celakanya jika pengetahuan itu digunakan untuk menyengsarakan orang lain.

Kondisi lebih naas lagi jika pendidikan kita hanya mampu menghasilkan akademisi yang gemar plagiat, pengusaha serakah, penguasa khianat, pelajar/mahasiswa hobi tawuran, dan peradaban yang celaka dan mencelakakan. Akhirnya, peradaban bangsa akan luluh lantak jika pilar pendidikan Indonesia masih dibangun atas dasar prinsip Tut Wuri Nggerogoti (Di Belakang Mengegerogoti), Ing Madya Ngangkut Banda (Di Tengah Mengangkut Harta), Ing Ngarsa Terus Ngapusi (Di Depan Selalu Menipu).

Masa depan nyatanya bukan terletak pada ilmu yang diperoleh, bukan pada kecerdasan yang dikembangkan, dan bukan pada keahlian yang dikuasai. Sesungguhnya masa depan terletak pada perilaku.

Bahkan Plato pun berujar, “Bersikaplah yang baik karena semua orang yang kita jumpai sedang menghadapi masalah besar”. Setuju atau tidak, pendidikan punya peran penting dalam membangun peradaban suatu bangsa hingga tetap eksis di masa depan. Utamanya, menghasilkan manusia yang berakhlak mulia sebagai inovator dan aktor intelektual yang melestarikan nilai-nilai baik di muka bumi ini. Bagaimana menurut Anda?

Asep Sapa'at
Teacher Trainer di Divisi Pendidikan Dompet Dhuafa

Redaktur: Johar Arif

Sumber: http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/eduaction/12/02/16/lzhab2-pendidikan-dan-peradaban-indonesia

Seni Bertanya Efektif di Kelas

Albert Einstein pernah berujar, “Hal terpenting adalah tidak pernah berhenti berpikir”. Sontak saya jadi teringat satu kata, yaitu mengajar. Apa hubungan pernyataan Einstein dan mengajar?

Anatole France (1859) seolah hendak menjawab pertanyaan saya, “The whole art of teaching is only the art of awakening the natural curiosity of young minds for the purpose of satisfying it afterwards”. Mengajar itu seni untuk merangsang keingintahuan murid. Rasa ingin tahu itulah sesungguhnya yang akan membuat murid selalu ditantang untuk berpikir. Semua harus penuh tanda tanya, karena dengan itulah kita akan selalu berpikir.

Mengapa kita harus berpikir? Ehm, pasti saat ini Anda sedang berpikir. Jika tidak, maka Anda kurang punya rasa ingin tahu untuk mencari jawaban atas pertanyaan itu. Tegasnya, Anda enggan berpikir.

Mengajar yang baik berarti membuat pertanyaan yang baik pula. Peranan ‘pertanyaan’ merupakan bagian penting dalam menyusun sebuah pengalaman belajar bagi murid. Socrates meyakini bahwa semua ilmu pengetahuan akan diketahui atau tidak diketahui oleh murid, hanya jika guru dapat mendemonstrasikan keterampilan bertanya yang baik dalam praktik pembelajaran di kelas. Seberapa penting keterampilan bertanya yang baik harus dikuasai guru?

Menurut Kerry (1982), dalam waktu sepekan, guru kerap memberikan 1000 jenis pertanyaan dengan memiliki beragam tujuan, di antaranya untuk mendorong murid berpartisipasi aktif di kelas, untuk memutuskan apakah murid mengetahui atau tidak mengetahui sesuatu, untuk melibatkan murid dalam aktivitas diskusi, untuk menarik perhatian murid, untuk mengevaluasi tingkat pemahaman murid, untuk menyediakan kesempatan mengulang materi pelajaran, dan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis – kreatif murid.

Aneh rasanya jika ada guru lebih senang meminta murid untuk duduk manis di bangku kelas. Duduk manis tak bisa menunjukkan ekspresi & potensi murid yang super unik. Lebih aneh lagi, masih ada guru yang menganggap tabu jika ada murid yang berani bertanya. Masih ingat bunyi salah satu iklan, “Tak ada noda ya tak belajar?”

Tak ada pertanyaan, berarti tak belajar pula. Semua orang punya otak, tapi hanya sedikit orang yang menggunakan otaknya untuk berpikir. Optimalisasi otak lewat proses berpikir inilah yang mestinya menjadi menu utama dalam setiap kegiatan pembelajaran.

Coba bayangkan sejenak, ketika kita hendak menutup pengajaran di kelas, tanyalah murid-murid Anda, “Apakah kalian sudah paham materi yang sudah disajikan?” Suasana kelas menjadi hening, tak ada satu pun murid yang unjuk tangan. Saya coba bertanya lagi, “Adakah yang masih bingung dengan materi yang telah disajikan?” Semua murid masih terdiam membisu.

Sebagian besar murid menghindari kontak mata dengan saya. Ini kisah nyata yang pernah saya alami. Suasana kelas yang sudah telanjur terpenjara. Terpenjara oleh guru yang menutup semua pintu bagi muridnya untuk bertanya, berdiskusi, berdebat, & berpikir. Tak ada keleluasaan untuk melakukan itu semua. Mustahil murid-murid di kelas seperti ini punya kebebasan untuk berpikir & berjuang keras mencari jawaban atas semua keingintahuan mereka. Yang mengkhawatirkan, mereka akan jadi generasi pemalas. Malas berpikir & berkreasi. Tragis.

Kelas mestinya menjadi ruang ekspresi murid yang dipenuhi suasana kemerdekaan. Merdeka untuk bertanya. Merdeka untuk menjawab pertanyaan. Merdeka untuk menyanggah jawaban. Merdeka untuk mengasah keterampilan berpikir. Kunci sukses terjadinya kemerdekaan di kelas terletak pada sosok guru yang open-minded dan punya keterampilan bertanya efektif.

Wahai guru yang budiman, jangan berikan semua pertanyaan yang jawabannya hanya ada di kunci jawaban saja. Hal itu tidak melatih keterampilan berpikir murid. Memang pertanyaan akan terjawab, tetapi murid tetap akan mandul cara berpikirnya. Mencari suatu jawaban dari hasil berpikir berbeda sekali kualitasnya dibandingkan dari hasil menemukan di kunci jawaban.

Yang paling naas, guru memberikan pertanyaan berjenis pilihan ganda, semua murid bisa jawab semua pertanyaan. Lantas kita simpulkan, prestasi belajar murid itu bagus. Tak tahunya, dia dapat bocoran dari teman sebangku. Alamak, apa kata dunia. Pesannya, jangan ketagihan memberi soal pilihan ganda. Sekali-kali, coba beri murid tantangan berupa proyek kerja, menulis esai, menulis makalah, atau tugas apa pun yang menguji keterampilan berpikir murid.

Tak ada guru yang pandai dengan sendirinya. Hal ini pun berlaku bagi guru yang ingin mengembangkan seni bertanya efektif di kelas. Mereka perlu ilmu tentang seni bertanya efektif.

Mau tahu ilmunya? Coba cermati beberapa anjuran terkait prinsip bertanya efektif di kelas dari Thomas R. McDaniel (2000) berikut:

1. Merencanakan pertanyaan. Sebagian besar guru faktanya baru merencanakan pertanyaan yang akan diajukan kepada murid beberapa saat sebelum bertanya. Alangkah baiknya semua pertanyaan yang akan diajukan kepada murid sudah termaktub di rencana pelaksanaan pembelajaran (lesson plan).

2. Menggunakan beragam level jenis pertanyaan sehingga mampu memfasilitasi kemampuan berpikir tingkat tinggi murid. Hal ini sangat penting dilakukan untuk membantu murid melatih kemampuan berpikirnya. Upayakan semua pertanyaan mengikuti kaidah mudah-sukar dan sederhana-rumit. Pertanyaan mudah bertujuan untuk memotivasi & meyakinkan murid bahwa pada prinsipnya mereka dapat menjawab setiap pertanyaan guru. Pertanyaan sulit sendiri bertujuan untuk merangsang murid melatih kemampuan berpikir tingkat tingginya.

3. Menyediakan waktu jeda kepada murid untuk menjawab pertanyaan. Teknik ini dapat mendorong kemampuan berpikir tingkat tinggi murid di kelas. Ketika suasana di kelas hening tanda tak ada murid yang menjawab pertanyaan, berhitunglah dalam hati sampai hitungan 5.

Trik ini perlu dilakukan untuk memberi kesempatan murid berpikir tentang jawaban mereka. Setelah itu, Anda persilahkan siapa di antara murid yang secara sukarela mau menjawab pertanyaan Anda. Lemparkan pertanyaan kepada seluruh murid, beri jeda waktu, dan tentukan salah satu murid secara acak untuk menjawab pertanyaan Anda, itu prinsip utamanya.

4. Menahan diri untuk tidak segera memberikan opini terhadap jawaban murid pada jenis pertanyaan yang menuntut kemampuan berpikir tingkat tinggi. Hindari kebiasaan untuk segera menanggapi jawaban murid. Berikan kesempatan kepada murid untuk saling mendengarkan jawaban di antara mereka. Karena itulah, mereka jadi saling belajar untuk melatih keterampilan berpikir.

5. Jangan bermain aman. Maksudnya, jangan berikan pertanyaan yang kita sendiri sebagai guru sudah tahu jawabannya. Berikanlah pertanyaan kepada murid yang kita sendiri juga sebagai guru belum tahu jawaban pastinya, karena itulah kita juga sebagai guru sedang belajar melatih keterampilan berpikir.

6. Mendengarkan secara seksama setiap jawaban murid. Praktik ini sangat penting, khususnya ketika guru menyampaikan pertanyaan terbuka (Jawabannya tidak sekadar benar atau salah. Misal, Mengapa Indonesia sering dilanda bencana? Mengapa Indonesia bisa dijajah Belanda sampai 350 tahun, dan pertanyaan sejenis lainnya), pertanyaan kreatif, dan atau pertanyaan evaluatif. Keterampilan ini harus terus dikembangkan agar guru dapat ‘menangkap’ gagasan cemerlang dari setiap jawaban murid.

7. Memberikan penguatan positif atas jawaban murid. Jawaban singkat dari murid untuk jenis pertanyaan mengulang informasi (level pengetahuan pada Taksonomi Bloom – level berpikir paling rendah) harus segera dikonfirmasi, berupa pujian jika berhasil dijawab murid, atau koreksi jika jawaban murid kurang tepat. Sedangkan untuk merespon jawaban murid atas jenis pertanyaan berpikir tingkat tinggi, maka lakukan trik bertanya efektif no. 6 di atas.

8. Menggunakan teknik bervariasi untuk meminta murid menjawab pertanyaan. Jika guru tetap ingin membuat murid merasa dilibatkan dalam menjawab pertanyaan, maka guru dapat mencoba menyebut salah satu nama murid secara acak, atau mengambil kartu yang sudah berisi nama-nama murid secara acak, atau bahkan melemparkan bola kepada murid yang hendak disuruh menjawab pertanyaan. Ingat, semua prosedur itu harus disepakati dulu bersama murid.

9. Mengajarkan murid bagaimana cara menjawab pertanyaan. Cara ini mudah sekali dilakukan. Ketika ada salah satu murid akan menjawab pertanyaan, maka guru dapat meminta semua murid untuk ikut menyimak jawaban dari murid tersebut, “Anak-anak, mari kita simak bagaimana cara si A menjawab pertanyaan tadi!”.

10. Mengajarkan murid bagaimana cara membuat pertanyaan. Ibarat pepatah, guru kencing berdiri murid kencing berlari. Kuasai keterampilan bertanya efektif, praktikan kehebatan Anda di kelas, kemudian refleksikan pengalaman Anda menguasai keterampilan bertanya efektif kepada murid, itulah cara terbaik mengajarkan murid bagaimana menguasai keterampilan bertanya efektif.

Selamat mencoba.

Asep Sapa'at
Teacher Trainer di Divisi Pendidikan Dompet Dhuafa

Redaktur: Johar Arif

Sumber: http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/eduaction/12/02/24/lzvmcu-seni-bertanya-efektif-di-kelas

Alamat Dinas Pendidikan di Jawa Barat

tutwuri_handayani

Dinas Pendidikan Prov. Jawa Barat
Jl. Dr. Rajiman No. 6, Bandung (40171)
Telp. 022-4264813, Faksimili 022-4264881

Dinas Pendidikan Kab. Bandung
Jl. Raya Soreang Km. 17 Soreang – Bandung
Telp. 022-5897517, Faksimili 022-5897518

Dinas Pendidikan Kota Bandung
Jl. Ahmad Yani No.239, Bandung
Telp. 022-7208007,7106568,7310956

Dinas Pendidikan Kota Banjar
Jl. Baru No.72 Kota Banjar
Telp. 0265-744085, Faksimili 0265-744085

Dinas Pendidikan Kab. Bekasi
Komplek Perkantoran Pemda Kab.Bekasi, Desa Sukamahi,Kec.Cikarang Pusat – Bekasi
Telp. 021-89970065,Pst.180,181,182, Faksimili 021-89970065

Dinas Pendidikan Kota Bekasi
Jl. Rawa Tembaga IV No. 18, Bekasi
Telp. 021-8842390

Dinas Pendidikan Kab. Bogor
Jl. Nyaman 1, Kel.Tengah, Kec.Cibinong-Bogor (16914)
Telp. 0251 8753191, Faksimili. 0251 8753191

Dinas Pendidikan Kota Bogor
Jl. Pajajaran 125, Bogor (16153)
Telp. 0251-341101

Dinas Pendidikan Kab. Ciamis
Jl. R.A. Kusumasubrata No.3, Ciamis (46213)
Telp. 0265-773709, Faksimili 0265-773709

Dinas Pendidikan Kab. Cianjur
Jl. Perintis Kemerdekaan No. 3, Ciulaku-Cianjur
Telp. 0263-264760,264829, Faksimili 0263-264829

Dinas Pendidikan Kota Cimahi
Jl. R. Demang Hardjakusuma (405513)
Telp. 022-6631725, Faksimili 022-6632165

Dinas Pendidikan Kab. Cirebon
Jl. Sunan Drajat No.10, Komp. Perkantoran Sumber-Cirebon (45611)
Telp. 0231-321266, Faksimili 0231-321266

Dinas Pendidikan Kota Cirebon
Jl. Brigjen Dharsono No. 7, By Pass, Cirebon (45132)
Telp. 0231-486579, Faksimili 0231-486698

Dinas Pendidikan Kota Depok
Jl. Urea-I, Kav. E No. 10, Beji Timur, Kota Depok
Telp. 021-77211229, Faksimili 021-77211229

Dinas Pendidikan Kab. Garut
Jl. Pembangunan No.179, Garut (44151)
Telp. 0262-233155, Faksimili 0262-240594

Dinas Pendidikan Kab. Indramayu
Jl. MT Haryono, Indramayu
Telp. 0234-274190,271294,272623, Faksimili 0234-274190

Dinas Pendidikan Kab. Karawang
Jl. Surotokunto No.72, Karawang (41313)
Telp. 0267-405215,402504,403309, Faksimili 0267-405215

Dinas Pendidikan Kab. Kuningan
Jl. Sukamulya, Cigugur, Kuningan (45552)
Telp. 0232-875905, 872860, Faksimili 0232-875905

Dinas Pendidikan Kab. Majalengka
Jl. KH. Abdul Halim No.97, Majalengka (45418)
Telp. 0233-282194, 281097, Faksimili 0233-281097

Dinas Pendidikan Kab. Purwakarta
Jl. Surawinata No.30A, Purwakarta (41114) PO BOX No. 6
Telp. 0264 200947,206944,201038, Faksimili 0264-206944

Dinas Pendidikan Kab. Tasikmalaya
Jl. Siliwangi No. 12, Tasikmalaya
Telp. 0265-331200, Faksimili 0265-326459

Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya
Jl. Ir. H. Juanda Komp. Perkantor, Tasikmalaya
Telp. 0265-312044, Faksimili 0265-330029

Dinas Pendidikan Kab. Subang
Jl. Aipda KS Tubun No. 2, Subang (41211)
Telp. 0260 411412,411413, Faksimili 0260-411413

Dinas Pendidikan Kab. Sukabumi
Jl. Raya Cisaat, Komp.Gelanggang Pemuda, Sukabumi
Telp. 0266-222655, Faksimili 0266-218054

Dinas Pendidikan Kota Sukabumi
Jl. Pelabuhan II, KM 5, Kota Sukabumi
Telp. 0266-221766, Faksimili 0266-221766

Dinas Pendidikan Kab. Sumedang
Jl. Pendopo, Tegalkalong, Sumedang, (45321)
Telp. 0261-206377, Faksimili 0261-206377